Aku Suka Foto, Instagram Sayang Video
Belum selesai dengan masalah akun Instagram-ku yang tiba-tiba di-ban, aku harus menghadapi satu hal lain yang bikin tambah kesal: tampilan barunya yang benar-benar merusak esensi berbagi foto.
Dulu, aku masih ingat betapa seriusnya aku mengatur feed 1:1. Ngabisin waktu berjam-jam cuma buat memastikan satu foto nyambung sama foto lain. Rasanya puas banget waktu akhirnya rapi, kayak lagi bikin pameran kecil-kecilan di layar hp. Dan semua itu hancur dalam sekali update. Seolah-olah album kenangan yang kubuat dengan hati-hati dipotong seenaknya sama orang asing.
Lambat laun aku sadar, Instagram bukan lagi tempat untuk memamerkan foto. Timeline yang dulu sederhana sekarang penuh dengan reels, iklan, dan rekomendasi aneh yang nggak ada hubungannya sama minatku. Fotografi terasa jadi figuran di panggung yang seharusnya jadi miliknya sendiri.
Aku coba lirik sana-sini. Glass kelihatan keren banget, tapi sayangnya berbayar. Flikr masih ada, tapi jujur aja—berasa agak jadul. Sampai akhirnya aku nemu Pixelfed dan Foto App. Gratis, simpel, dan yang paling penting: mereka peduli sama foto. Nggak ada algoritma ribet, nggak ada video racun, cuma foto yang benar-benar jadi pusat perhatian. Foto App bahkan memberikan layout profil yang asik, di mana ukuran tiap-tiap foto mengikuti ukuran aslinya. Sederhana, tapi menyenangkan, dan akhirnya jadi pilihanku berbagi. Menariknya, aku pertama kali tahu tentang Foto App ini dari Om Rane dalam postingannya, yang menuliskan pengalamannya dengan jujur dan apa adanya. Terima kasih Om hehehe.
Dan mungkin… memang udah waktunya berhenti berharap Instagram balik kayak dulu. Foto-foto yang kuambil dengan sepenuh hati lebih pantas ada di ruang yang menghargainya. Karena pada akhirnya, sebesar apapun platform berubah, fotografi tetap punya satu tujuan yang nggak akan terganti: mengabadikan momen, bukan mengejar algoritma sementara.
Kalo kepo sama galeriku di Foto App, bisa klik disini 😆