EXODUZ

Review Album: The Sky, The Earth & All Between – Architects

Pada 28 Februari lalu, Architects akhirnya merilis album terbaru mereka, The Sky, The Earth & All Between. Sebuah karya yang terasa seperti eksperimen penuh keberanian, membawa angin segar ke dalam diskografi mereka. Kali ini, mereka menyisipkan sentuhan unsur electronic music, pop, dan punk rock ke dalam beberapa lagu—mungkin bukan sesuatu yang langsung bisa diterima oleh semua fans lama, tapi tetap terasa khas Architects. Peran Jordan Fish dalam produksi album ini benar-benar terasa, memberikan dimensi baru yang membuatnya lebih beragam tanpa kehilangan sisi heaviness yang kita kenal.

Secara sonik, album ini punya vibe yang cukup mengingatkan pada beberapa rilisan terbaru Bring Me The Horizon, tapi dengan eksekusi yang lebih tertata dan tetap menggigit. Setiap lagu terasa seperti bagian dari perjalanan, di mana Architects tidak hanya sekadar bereksperimen, tetapi juga melakukan eksplorasi yang terarah. Ini mungkin bukan album paling berat yang pernah mereka buat, tapi jelas salah satu yang paling menarik dan berani.

🎧 Track yang Menonjol

1. "Seeing Red"

Lagu ini langsung mencuri perhatian sejak detik pertama. Meledak dengan hentakan agresif dan, tentu saja, "Blegh!" khas Architects yang seolah menjadi pemicu adrenalin. Riff yang tajam dan vokal yang penuh amarah membuatnya terasa seperti rollercoaster intens yang nggak memberi jeda. Apalagi pada bagian Choir yang menggelitik—yang menjadi penyebab protagonis marah 🤣.

We're all you need//We'll make you royalty//We'll be the best of enemies

Jawaban dari protagonis dalam lirik.

You oughta know that I'm like a broken machine//I'm not as bulletproof as you all paint me to be//Time hasn't frozen, why do you want me to scream?//Are you a junkie punk, medicating for free?

Sayangnya, bagian akhir lagu terasa agak kurang nendang—breakdown-nya singkat dan tipis, seakan energi sudah terkuras habis di awal. Tapi justru di situlah menariknya: lagu ini seperti merangkum semua elemen wajib dalam lagu metal modern, seolah memberikan tutorial tentang bagaimana membuat lagu yang hard-hitting.

2. "Curse"

Dirilis sebagai single kedua setelah "Seeing Red", lagu ini langsung mencuri perhatian dengan jeritan dan hentakan drum yang eksplosif di awal. Energinya begitu terasa sejak detik pertama, memberikan kesan agresif yang kuat.

Namun, di balik gebukan yang intens, "Curse" juga menyelipkan chorus yang melodius dan indah, memberi sedikit ruang untuk calm down sebelum kembali dihantam oleh aransemen yang padat. Liriknya sederhana namun tajam, membuatnya mudah dipahami dan dinyanyikan.

Meskipun tidak memiliki breakdown yang keras dan berat, lagu ini tetap terasa solid dan menyenangkan untuk didengarkan. Perpaduan antara energi liar dan melodi yang melekat di kepala menjadikan "Curse" salah satu trek yang paling menonjol di album ini.

I give you my word // In the times I've had enough // I still wish for the worst // As free as a bird // But the days keep crossing off // Heaven came with a curse

3. "Brain Dead" (feat. House of Protection)

Kolaborasi dalam "Brain Dead" bersama House of Protection menjadi salah satu kejutan terbaik di album ini. Lagu ini penuh energi punk rock, dengan tempo cepat dan riff yang tajam. Saat masuk ke bagian breakdown, tempo melambat dengan gebukan yang berat dan growl yang dalam—chef’s kiss! Rasanya seperti mendapat suntikan energi yang bikin kepala otomatis mengangguk mengikuti irama.

4. "Elegy"

Lagu pembuka album ini menawarkan pendekatan yang cukup kontras. Intro yang syahdu dan lembut membuat transisi ke bagian verse yang lebih berat terasa semakin epik. Rasanya seperti dipancing masuk ke dalam sesuatu yang tenang, lalu tiba-tiba dihantam badai—cara klasik yang selalu berhasil memancing emosi pendengar.

5. "Chandelier"

Sebagai penutup album, Chandelier menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda dari lagu-lagu sebelumnya. Dengan unsur electronic music yang cukup terasa, lagu ini hadir dengan tempo yang lebih lambat dibandingkan kebanyakan trek di album ini.

Fokus utama dalam Chandelier adalah vokalnya yang lebih dominan, memberi ruang bagi emosi untuk tersampaikan dengan lebih dalam. Meskipun tidak memiliki breakdown, lagu ini tetap menyisipkan scream khas metal—sebuah pengingat bahwa Architects tidak serta-merta melupakan identitas mereka. Sebuah penutup yang atmosferik, sekaligus memberikan kesan yang mendalam setelah perjalanan sonik yang penuh energi di sepanjang album.

Kesimpulan

The Sky, The Earth & All Between bukan album yang sempurna, tapi jelas ini adalah pernyataan tegas dari Architects bahwa mereka masih punya banyak hal untuk ditawarkan. Eksplorasi mereka kali ini mungkin akan membagi opini para fans, tapi justru di situlah letak daya tariknya—album ini menantang ekspektasi dan tetap menyuguhkan pengalaman mendengarkan yang solid. Masterpiece!!!


Sekarang tinggal menunggu CD albumnya datang. Semoga cepat sampai, biar bisa diputar berkali-kali! 🎶🔥

#musik #review