EXODUZ

Bahkan Hujan Tak Mampu Memadamkan Api

Malam itu hujan mengguyur dengan cukup lebat. Menyisakan dingin yang menusuk tulang. Menimbulkan suara gaduh menghantam genting. Namun suara itu tak cukup keras untuk meredam bisikan dari kotak berpendar di tangannya. Matanya terpaku pada layar, memastikan bahwa apa yang sedang dilihatnya bukanlah halusinasi—bahwa senyum yang dulu hanya untuknya kini muncul di kamera orang lain.

Layar ponsel di tangannya menyala-padam, ibu jarinya membuka dan menutup kunci. Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Tak ada yang benar-benar dibaca.

Tujuh kali jempolnya mengetik. Tujuh kali pula kalimat itu lenyap sebelum terkirim.

Hujan masih berlanjut, namun api di dalam tak kunjung padam. Beberapa kali matanya menatap langit-langit kamar. Gelap, kosong, dan hampa. Mulutnya terasa pahit, mungkin sisa kopi yang telah menjadi dingin. Aromanya tersebar di seluruh ruangan. "Apakah dia pasangan barunya?".

"Bukan kok, dia cuma temen kantor"

Kata-kata itu masih terngiang.

Darahnya berdesir ke kepala, menderu tanpa arah. Suara-suara di dalamnya mencuat, menambah kebisingan yang sudah ada. Semuanya beradu dalam kamar itu. Menyesakkan dada, seperti udara tiba-tiba menipis.

Tangannya meraih ponsel yang telah padam. Layar menyala lagi. Scrolling berhenti di satu foto—yang mampu membakar. Menyesal.

Hujan terus mengguyur. Di luar sana, air memadamkan segalanya. Tapi tidak di sini. Tidak malam ini. Matanya tertutup. Api tetap menyala.

#celoteh