EXODUZ

Banyuwangi Di Penghujung Kemarau

Rencananya sederhana. Tiga tempat dalam sehari. Djawatan, Green Island, lalu Pulau Merah buat menutup hari.

Aku sendiri belum pernah ke Banyuwangi. Yang aku tahu cuma dari foto orang lain: airnya biru, hutannya rimbun, dan katanya ada bukit yang pemandangannya bagus. Sisanya aku pasrahkan ke driver dan dua teman yang sudah pernah ke sana.

Perjalanan darat dari Lamongan panjang. Kami berangkat malam supaya sampai pagi, dan itu keputusan yang benar, karena begitu masuk jalur Probolinggo ke timur, seisi Hiace mulai diam dengan cara yang sama. Nggak ada yang berencana tidur, tapi satu per satu menyerah juga.

Sampai akhirnya satu orang berhenti menjawab pertanyaan.

Awalnya kami kira dia cuma tidur biasa. Dia diam cukup lama, lalu mulai teriak lalu bicara dengan nada datar, nggak nyambung, dan tiba-tiba menyebut soal nasi goreng dan ayam goreng seperti orang yang sudah tiga hari nggak makan.

Sisanya kupersingkat saja, karena detailnya bukan ceritaku untuk dibagi. Yang perlu kamu tahu: kami mencoba menenangkannya, tapi nggak ngaruh. Akhirnya kami rekam dan biarkan saja dia ngoceh-ngoceh sendiri. Beberapa menit kemudian dia sadar.

IMG-20261001-025445-02

Yang paling nggak aku duga adalah reaksi setelahnya. Dia malu dan bingung. Kami tertawa lepas sedikit olokan juga. Sepanjang sisa perjalanan, setiap kali kami melewati warung, salah satu dari kami bertanya, "Mau nasi goreng, nggak?" Dia selalu menggeleng. Kami tetap bertanya, menggoda.

Kami berhenti sekali untuk salat subuh. Musala pinggir jalan, airnya dingin, lantainya bersih, dan antrean orang yang juga sedang dalam perjalanan. Setelah itu aku lanjut tidur, sedangkan yang lainnya beli teh dan gorengan di pasar, lalu lanjut lagi.

IMG-20261001-070310-02

✦✦✦

Djawatan

Banyuwangi-20261001-092350-01

Djawatan jadi tempat pertama yang kami datangi, dan itu pilihan yang tepat karena setelah kejadian tadi semua orang butuh tempat yang tenang.

Kalau dibandingkan dengan bayanganku, tempat ini lebih besar dari yang aku kira. Deretan pohon trembesi dengan akar yang keluar ke permukaan dan melebar seperti jari-jari raksasa yang menancap ke tanah. Batangnya besar, dan kalau aku mendongak, tajuknya menutup hampir seluruh langit. Orang menyebutnya hutan pelangi, dan sampai sekarang aku belum menemukan penjelasan yang memuaskan soal asal nama itu.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, sebagian besar untuk urusan yang nggak penting, yaitu memotret satu sama lain dari berbagai sudut sampai bosan. Ada satu titik di mana cahaya menembus sela-sela daun dan jatuh ke akar, dan seluruh tempat itu kelihatan seperti diatur orang. Padahal nggak.

Yang aku ingat dari Djawatan bukan fotonya, tapi suara kami sendiri. Meskipun saat itu ramai pengunjung, setiap kali salah satu dari kami bicara agak keras, suaranya terdengar berlebihan. Kami jadi ikut bicara pelan tanpa ada yang menyuruh.

Banyuwangi-20261001-100140

✦✦✦

Green Island

Banyuwangi-20261001-133035

Green Island jadi tujuan kedua, dan ini bagian yang paling banyak menyita tenaga.

Dari Djawatan kami masih harus berkendara ke selatan, ke arah Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Jalannya panjang dan makin sepi. Sepuluh orang di dalam Hiace, sebagian sudah tidur lagi, sisanya sibuk memastikan nggak ada yang tertinggal di mobil.

Kami parkir di Pantai Mustika. Sarapan dulu biar kuat menghadapi curamnya tangga. Lanjut ke dermaga, ketemu guide lokal yang sebelumnya sudah janjian, lalu kami sewa perahu untuk menyeberang. Sekitar sepuluh sampai dua puluh menit di atas air, tergantung ombak. Aku duduk di sisi yang paling tengah karena itu satu-satunya tempat yang terasa aman buat orang yang nggak bisa berenang.

Setelah merapat, kami disambut pantai kecil di balik bukitnya. Pantainya putih dan cukup luas. Namun, sayangnya batu karang di situ sangat banyak dan besar, jadi kami cuma bisa bermain air di bibir pantai.

Banyuwangi-20261001-125804

Di pulau itu ada bukit yang wajib didaki kalau mau dapat pemandangan dari atas. Dari bawah kelihatannya pendek. Kelihatannya. Jalurnya menanjak, sebagian berupa tanah dan batu, dan yang membuatnya lebih berat adalah kami mendakinya siang bolong dengan perut yang belum diisi apa-apa selain air mineral dan biskuit sisa perjalanan.

Aku naik pelan-pelan. Sekitar dua pertiga jalan, pandanganku mulai aneh. Bukan gelap, tapi seperti ada yang menurunkan kecerahan layar. Telinga berdenging, kaki lemas, dan aku sadar aku sudah berdiri terlalu lama di tempat yang sama tanpa bergerak maju.

Aku duduk di pos 2 setelah guide memaksa kami istirahat. Salah satu teman menyodorkan minum dan menyuruhku menunduk. Aku menurut. Beberapa menit kemudian keringat dinginnya berhenti, dan aku baru sadar seluruh baju basah bukan karena laut.

IMG-20261001-130116-02

Sisa pendakian aku tempuh dengan kecepatan kakek-kakek. Sampai di atas, pemandangannya memang bagus. Gugusan pulau kecil, laut lepas, dan garis hijau hutan di kejauhan. Tapi aku jujur saja, sisa waktu di bukit itu lebih banyak aku habiskan duduk mengatur napas daripada mengagumi apa pun. Teman-teman foto-foto, aku minum air seperti orang yang baru keluar dari padang gurun.

Pelajaran yang aku bawa pulang dari bukit itu bukan pelajaran spiritual. Aku cuma kurang olahraga, dan tubuhku memberi tahu dengan cara yang nggak halus.

Banyuwangi-20261001-140528

✦✦✦

Pantai Pulau Merah

Banyuwangi-20261001-154409

Pulau Merah kami capai menjelang sore, dan ternyata jaraknya nggak jauh dari dermaga tadi. Satu kecamatan, kalau tidak salah. Jadi kami nggak perlu berkendara jauh-jauh, cuma pindah sisi.

Dari kejauhan tempat ini kelihatan biasa. Pantai, pasir, ombak. Tapi ada satu bukit di sisi kanan yang tanahnya merah, dan laut di depannya terbuka lebar tanpa penghalang. Kami duduk di rumput, menunggu matahari turun, sambil menghabiskan apa pun yang tersisa di tas.

Jujur cukup bosan menunggu matahari tenggelam. Untungnya ada satu temanku yang mengajak jalan-jalan, sekalian cari gambar. Aku ikut, dan ternyata nggak nyesel.

Kami menemukan sebuah bukit yang dikelilingi air. Di dekat situ ada masjid yang unik, pura, gereja, dan Vihara (?), terletak di sudut yang jarang dikunjungi wisatawan. Ada juga deretan kedai yang kebanyakan tutup.

Entah lah, padahal di sisi yang banyak payung terlihat cukup ramai, sedangkan di situ malah sepi wisatawan. Terlihat dari plat nomor kendaraan warga lokal yang datang.

Setelah puas, kami kembali bergabung dengan yang lain untuk menunggu senja.

Banyuwangi-20261001-152750

Aku nggak akan menulis kalimat puitis soal senja karena aku nggak sanggup. Yang aku ingat cuma ini: anginnya kencang, suara ombaknya nggak berhenti, dan untuk pertama kalinya seharian itu nggak ada satu pun dari kami yang bicara lebih dari lima menit. Bukan karena canggung. Cuma memang nggak ada yang perlu ditambahkan.

Teman yang tadi pagi minta nasi goreng duduk di sebelahku. Aku bertanya lagi, bercanda. Dia tertawa, lalu bilang dia benar-benar lapar sekarang. Kami nggak menemukan nasi goreng di sana. Ada mie instan, dan itu cukup.

Banyuwangi-20261001-170430

✦✦✦

Kami pulang malam itu juga, dengan badan pegal, dan satu cerita yang nggak akan pernah bisa diceritakan tanpa orang lain menyangka kami melebih-lebihkan.

Kalau ada yang bertanya apakah aku mau mengulanginya, jawabannya iya. Tapi kali ini aku akan olahraga dengan lebih rajin (semoga nggak wacana), dan aku akan memastikan nggak ada yang meminta nasi goreng di tengah hutan.

📸 Lihat Album

#celoteh #travel