EXODUZ

Catatan Kecil Sebelum Meninggalkan Sebuah Tempat

night

Sudah beberapa hari sejak aku mengajukan resign. Atau mungkin lebih tepatnya, dipecat? Entahlah.

Lucunya, hanya sekitar 20 menit setelah aku menyampaikan niat untuk resign, bosku bilang kalau penggantiku sudah ada dan siap masuk tanggal 25 Agustus. Deem, brok.

Jujur, sebenarnya keinginan untuk resign ini sudah muncul sejak lama. Puncaknya terjadi ketika aku "kabur" (meskipun sudah izin ke bos lanang) selama seminggu ke Salatiga dan Yogyakarta. Waktu itu rasanya aku cuma butuh pergi sebentar, menjauh dari rutinitas yang semakin hari terasa makin berat.

Tapi setelah kembali, aku masih bingung bagaimana cara menyampaikan niat untuk berhenti.

Masalahnya, aku adalah satu-satunya admin di sana. Pekerjaanku mengurus banyak hal: keuangan, perpajakan, BPJS pekerja, penggajian, data pekerja, dan berbagai urusan administrasi lainnya. Jadi ada rasa khawatir juga kalau tiba-tiba pergi. Apalagi di sana hampir tidak ada yang bisa mengoperasikan komputer untuk menggantikanku.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tempat kerjaku bukan tempat yang buruk. Bahkan bisa dibilang cukup nyaman. Gaji UMR Surabaya, kalau sedang tidak ada pekerjaan bisa tidak masuk, makan gratis, tunjangan BPJS, tunjangan transportasi dan pulsa, jam masuk yang fleksibel, serta kebebasan mengatur waktu sendiri. Dengan catatan, harus siap lembur kalau ada sesuatu yang mendesak, bahkan di tanggal merah sekalipun.

Karena itu, ketika aku bilang ingin resign, banyak orang yang mempertanyakan keputusanku.

Teman lamaku ketika tahu aku akan resign langsung ngoceh panjang lebar.

"Kerjaan enak, gaji oke, kenapa resign? Eman. Nanti habis resign mau ke mana?"

Bukannya sakit hati, aku malah ngakak. Soalnya dulu ketika dia yang mau resign atau tidak melanjutkan kontrak, aku juga yang paling banyak ngomel. Jadi rasanya seperti ada dendam yang akhirnya terbalaskan.

Ibuku juga kurang lebih sama. Bedanya, ibu mengirimkan brosur rumah subsidi dengan cicilan yang katanya cukup murah. Katanya supaya aku tetap semangat kerja.

Sayangnya, usaha itu datang sedikit terlambat. Keinginan untuk resign sudah sampai di ujung tanduk dan tinggal menunggu waktu untuk meledak.

✦✦✦

Memang, pekerjaanku bisa dibilang lintas semesta. Tapi dengan beban kerja yang sebanyak itu, otak kecilku yang kemampuan multitasking-nya pas-pasan ini mulai menjerit.

Aku juga tipe orang yang agak pelupa dan gampang terdistraksi. Ketika sedang fokus mengerjakan sesuatu, tiba-tiba muncul pekerjaan lain yang katanya lebih urgent. Alhasil, workflow yang sudah kususun sejak pagi langsung berantakan.

Belum lagi ketika musim perpajakan tiba. Rasanya benar-benar ingin menyerah. Harus menyiapkan laporan keuangan untuk dua badan usaha yang berbeda, sambil tetap mengurus pekerjaan harian lainnya. Rasanya seperti ruh perlahan ingin meninggalkan tubuh.

✦✦✦

Sebelumnya, ketika sedang mabuk, aku sering membuang sampah pikiran kepada rekan kerja yang tidak berhubungan langsung dengan atasan. Kenapa aku percaya kepada mereka? Karena mereka juga sering menjadikanku tempat bercerita, dan kami sudah sepakat untuk saling menjaga rahasia.

Ada satu pesan yang pernah mereka sampaikan:

"Kalau mau resign, jangan lupa cari lompatan dulu."

Sayangnya, aku malah nekat mengambil keputusan ini tanpa mendapatkan tempat baru.

✦✦✦

Seminggu setelah mengajukan resign, setiap hari terasa sedikit berbeda. Aku sudah tidak punya keinginan untuk berangkat kerja, tapi tetap harus datang karena penggantiku belum bisa masuk. Dia masih menjalani masa one month notice di tempat kerja sebelumnya.

Aneh rasanya. Secara status aku masih bekerja di sana, tapi dalam pikiranku aku sudah mulai berpamitan.

Mungkin keputusan ini terlalu nekat. Mungkin juga aku seharusnya bertahan lebih lama. Tapi setelah sekian lama memikirkan semuanya, rasanya sudah waktunya aku mencoba sesuatu yang baru.

Jadi, untuk sementara ini aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Sebelum akhirnya benar-benar memulai petualangan berikutnya.


#celoteh