EXODUZ

Dibentuk dari Kurang, Dihidupkan untuk Cukup

“The wound is the place where the Light enters you.”
— Rumi

Tentang Retakan dan Alasan Kita Terus Melangkah

Suatu malam, seorang kawan ngajak ngopi. Warung kopi andalan di kota jadi titik temu untuk nongkrong. Dia datang satu jam lebih awal dari aku—yang telat karena kerjaan belum kelar. Setelah perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya aku sampai juga. Langsung pesan kopi susu andalan, sebotol air mineral buat penetralisir, dan sepiring gorengan yang sedari sore masih belum laku.

Sebenarnya, aku nggak terlalu niat buat ketemu. Soalnya temanku ini agak gateli. Pernah beberapa kali ngajak ngopi, tapi selalu kutolak halus—pakai alasan-alasan yang kadang dibuat-buat juga wkwk. Tapi ya sudahlah, toh dia ini orangnya cukup asik kalau ngobrolin soal investasi, keuangan, dan karir. Kalau urusan percintaan? Hmm... gak usah dibahas, kureng.


Malam makin terang, obrolan makin ngalor-ngidul. Sampai akhirnya nyerempet ke topik yang jarang-jarang: astrologi.

Obrolan kami awalnya ngalor-ngidul kayak biasa, tapi lama-lama mulai masuk ke topik serius—lagi-lagi tentang perusahaan besar, karir, dan segala tetek bengek dunia kerja. Aku cuma angguk-angguk, pura-pura nyimak. Dalam hati udah mulai capek. Topik kayak gitu terlalu berat buat malam itu. Terlalu kompetitif. Kadang bikin iri, kadang juga bikin hati gak enak sendiri.

Jadi, buat ganti suasana, aku nyeletuk,

“Eh, kamu percaya nggak sih sama zodiak atau astrologi?”

Dia langsung nyaut,

“Percaya, tapi aku lebih cocok sama perhitungan shio. Lebih kena aja gitu.”

Aku cuma angguk sambil ngisep sisa kopi susu yang udah mulai dingin. Sebenarnya aku lebih sering pakai weton—perhitungan Jawa yang katanya bisa mencerminkan watak dan nasib seseorang. Bukan berarti percaya mentah-mentah juga sih, tapi kupakai lebih ke arah refleksi diri. Bahan buat mikir, buat ngaca.

Ngobrol makin panjang, dan saat dia sibuk main HP, aku iseng cari tahu perhitungan tentang diriku. Dari tanggal lahir, weton, sampai shio—semua aku cari. Nggak butuh waktu lama, aku nemu beberapa hasil yang bikin kening berkerut.

Bukan karena ramalan masa depannya, tapi karena penjelasan soal wataknya. Beberapa sifat negatif yang tertulis di situ, kok ya rasanya ‘gue banget’—eh maksudnya, aku banget. Mulai dari keras kepala, suka menunda, pelupa, dan sombong. Dan yang bikin makin greget, beberapa di antaranya pernah diomongin langsung sama guruku dulu, tanpa kode, tanpa basa-basi.

Refleksi: Ketidaksempurnaan dan Hidup

Sadar nggak sadar, watak yang ‘kurang’ itu sering jadi batu sandungan. Jadi alasan kenapa langkah terasa berat, kenapa tujuan terasa jauh. Dan ketika aku mikir lebih dalam—di singgasana kotorku alias WC, tempat terbaik buat merenung—aku sampai pada satu pertanyaan:

Kalau manusia memang diciptakan tak sempurna, kenapa kita tetap harus hidup?

Kenapa harus tetap jalan terus, meskipun tahu ada yang "cacat" dalam diri?


Malam makin larut, dan aku diam di kamar, ditemani suara kipas dan lampu redup. Dalam senyap, pikiranku masih bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah membaca hitungan itu. Tentang diri yang tak sempurna. Tentang watak yang jadi beban. Tentang kekurangan yang sejak dulu diam-diam membentuk jalan hidupku.

Lalu aku sadar—manusia tak pernah diminta untuk jadi utuh. Kita hanya diminta untuk berjalan. Meski tak tahu arah pasti. Meski kadang harus jatuh di tempat yang sama.

Karena mungkin, justru dari retakan-retakan kecil di diri kita, cahaya bisa menyelinap masuk. Memberi alasan untuk tumbuh, meski pelan. Memberi harapan untuk terus hidup, meski tak selalu kuat.

Kita hidup bukan karena kita sempurna.
Kita hidup karena kita masih bisa merasa.
Masih bisa salah.
Masih bisa belajar.

Dan mungkin, itu lebih dari cukup.

Ilustrasi Refleksi
Sumber: Pinterest

#celoteh #omong-kosong