EXODUZ

Kasbon, Emosi, dan Keputusan yang Gegabah

Siang itu, pas jam istirahat, aku lagi sibuk di meja, ngerekap gaji sama nyatat pekerja baru. Bos juga lagi serius ngoreksi slip gaji—kayaknya masih ada yang salah—sebelum bos besar datang bawa segepok uang buat pembayaran. Semua orang fokus sama kerjaannya masing-masing.

Tiba-tiba, datang seorang pria bawa helm dengan nomor 705 di atasnya. Tanpa basa-basi, dia langsung minta kasbon buat bulan Maret. Nominalnya lumayan besar—dua juta rupiah—katanya buat keperluan Lebaran.

Bos yang lagi sibuk langsung naik darah. Gaji bulan Februari baru cair kemarin, tapi ini udah minta kasbon lagi. Padahal, aturan di tempat kerja jelas: kasbon maksimal dua juta per bulan atau sesuai jumlah hari kerja yang udah dijalani. Tapi dia nggak peduli.

Suaranya makin naik. Makin maksa.

"Aku butuh! Anakku tiga! Kasih aja sesuai absen, kasih aja!"

Bos yang awalnya masih coba nahan, akhirnya kehilangan kesabaran juga. Uang dua juta dikasih—tapi bareng sama surat pemecatan. Dia dipecat, saat itu juga.

Padahal, kalau dia bisa sedikit nahan diri, dia bisa dapet uang 2,5 juta berdasarkan absensinya. Atau lebih baiknya lagi, kasbon dua juta itu tetap bakal cair di hari Jumat atau Minggu, tanpa pemecatan.


Setiap orang punya masalah masing-masing. Ada yang lagi kepepet, ada yang lagi susah. Tapi kalau nggak bisa ngontrol emosi, kadang malah bikin keadaan makin runyam.

Kadang lebih baik nahan diri sedikit buat dapetin apa yang diinginkan, daripada ngegas dan malah kehilangan semuanya. Tapi ya, nggak semua orang ngerti batasannya.

Di sisi lain, kalau lihat dari sudut pandang perusahaan, ya ada aturan yang harus ditegakkan. Ada perasaan pekerja lain yang harus dijaga ~eeh. Nggak ada yang sepenuhnya salah, tapi juga nggak ada yang bisa dibilang benar sepenuhnya.

Dari kejadian ini, ada satu hal yang bisa dipetik:

Kadang, lebih baik bersabar sedikit daripada terburu-buru dan menyesal belakangan.

#celoteh