EXODUZ

Mengantar, Melepas, dan Mengingat

Pagi ini, aku mengantarkan adikku ke stasiun di kota sebelah untuk berangkat ke Semarang. Sebenarnya, ia bisa saja naik bus antarkota dan turun tepat di depan stasiun. Tapi kali ini, ia meminta secara khusus untuk diantar dengan motor.

Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Karena berangkat di jam pagi, jalanan cukup lengang. Aku pun memacu motor sedikit lebih cepat dari biasanya, apalagi kami agak kesiangan bangun, jadi ada sedikit rasa dikejar waktu. Angin pagi terasa dingin di wajah, bercampur hangatnya matahari yang mulai naik.

Sesampainya di stasiun, ia langsung menuju loket. Tangannya sigap mengeluarkan ponsel, menampilkan barcode tiket untuk dipindai petugas. Setelah ia masuk ke ruang tunggu, aku tidak langsung berbalik pulang. Entah kenapa, aku ingin menunggu.

Tak lama, terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat. Dari balik jendela, kulihat ia berdiri sambil melambaikan tangan dan senyum tipis di wajahnya, tanda sebentar lagi ia akan pergi ke Semarang untuk melanjutkan belajar setelah libur panjang.

Ada rasa yang sulit dijelaskan. Seperti tidak rela, tapi bukan juga sedih sepenuhnya. Mungkin rindu yang belum sempat terbayar lunas. Entahlah.


***

Pikiran itu membawaku kembali ke tahun 2005, ketika aku dan adikku masih duduk di bangku SD. Saat itu, kami harus berpisah dari orang tua dan tinggal bersama kakek dan nenek di provinsi tetangga, di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Aku kelas 4, ia kelas 3.

Untuk anak seusia itu, perpisahan terasa aneh. Ada sedih, tapi lebih banyak rasa senang karena bebas bermain tanpa dibatasi aturan. Kakek dan Nenek jarang sekali memarahi kami, meski sering pulang terlambat karena asyik bermain. Kami dimanja.

Beberapa tahun kemudian, aku melanjutkan sekolah menengah di pondok pesantren kabupaten sebelah. Sejak itu, perpisahan jadi bagian hidup, selalu ada, tapi jarang kupikirkan dalam-dalam.

Dan hari ini, saat melepas adikku pergi, aku jadi sedikit paham apa yang orang tuaku rasakan setiap kali melepas kami. Akhirnya aku sadar, selain memaksa tega, mereka juga menyimpan rasa berat yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ternyata, mengantar kepergian seseorang, meski hanya sementara tetap saja meninggalkan ruang kosong di sudut hati.

#celoteh