EXODUZ

Seni Menjadi "Semi-Anonim"

Kemarin malam, aku sempat menegur adikku yang jari jempolnya sibuk banget scrolling layar HP tanpa henti—istilah kerennya sih doomscrolling.

"Masih suka baca ta?" tanyaku.

Dia cuma jawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar, "Udah jarang, Mas. Sibuk ngerjain tugas kuliah sama kegiatan organisasi."

Klasik, ya? Kesibukan sering jadi alasan kita buat berhenti membaca sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar caption singkat atau video durasi 15 detik. Akhirnya, aku coba "meracuninya" untuk sesekali mampir ke blog orang lain. Aku kirimkan tiga link1 blog yang aku ikuti di RSS.

Kenapa Harus Blog?

Buatku, blog itu spesial. Meskipun isinya cuma teks, tapi kedalamannya beda. Kita bisa memetik pelajaran langsung dari pengalaman hidup atau opini orang lain. Ada rasa koneksi yang lebih jujur di sana—sesuatu yang seringkali hilang di tengah hiruk-pikuk media sosial yang penuh filter.

Lucunya, obrolan kami berakhir seperti ini:

Adik: "Lha, Mas punya blog juga ta?"
Aku: "Punya, dong."
Adik: "Apa namanya? Paling 'pungutan liar', kan? Itu kan username andalanmu."
Aku: "Enggak, yo! Rahasia pokoknya. Udah baca aja link yang tak kirim"

✦✦✦

Sebenarnya, aku sengaja bikin blog ini semi-anonim (aku lupa dapet istilah ini dari siapa 😖). Ini adalah ruang pribadiku. Orang-orang yang kenal aku di dunia nyata nggak tahu kalau aku punya tempat bercerita di sini. Tapi, siapa pun yang membaca tulisan-tulisanku, mungkin bisa kenal siapa aku lewat pemikiran yang kutuangkan link media sosialku.

Menulis blog bagiku bukan soal mencari validasi atau jumlah followers, tapi soal jujur pada diri sendiri tanpa perlu merasa diawasi sama orang-orang yang kenal kita di real life.


  1. Link yang tak kirim ke adekku adalah: Kak Sekar, Kak Mega, dan Om Rane. Jangan lupa mampir ke blog mereka ya! 😁

#celoteh