Mengapa Aku Suka Foto Hitam Putih?
Suatu ketika, cru~ seorang teman bertanya tentang fotoku yang sering hitam putih, baik di Instagram maupun media lainnya. Pertanyaan serupa sudah sering muncul, dan dulu, sebelum aku menemukan alasan yang jelas, jawabanku selalu singkat: "Lagi pengen aja" atau "Biar nyeni." Kadang, aku hanya tersenyum tanpa menjelaskan apapun.
Jawaban-jawaban seperti itu, jelas, nggak membantu. Malah seringkali berakhir dengan ejekan atau kebingungan dari mereka yang bertanya. Namun, belakangan ini aku mulai memahami lebih baik mengapa aku suka gaya hitam putih.
Inspirasi di Balik Hitam Putih
Aku terinspirasi oleh fotografi jalanan (street photography), meskipun tidak sepenuhnya menganut gaya ini. Fotografi jalanan seringkali menggunakan palet hitam putih, meskipun ada juga yang berwarna. Akun-akun komunitas fotografi di Instagram, website Magnum Photos atau karya Vivian Maier, dan banyak lagi yang lainnya yang menjadi sumber inspirasi besar bagiku.
Hitam putih membuat kita fokus pada esensi gambar, tanpa gangguan dari warna-warna yang terlalu mencolok. Warna terkadang bisa mengalihkan perhatian dari subjek utama, sedangkan hitam putih memusatkan mata pada detail dan komposisi yang seringkali terlewatkan dalam foto berwarna.


Kenapa Hitam Putih?
Simplicity dalam Editing
Sebelumnya, feed Instagram-ku penuh dengan foto berwarna. Tapi, mengedit foto berwarna itu cukup memakan waktu. Mencocokkan saturasi, hue, dan elemen-elemen lain bisa sangat rumit. Beralih ke hitam putih memberi kemudahan—cukup menurunkan saturasi sampai -100, menyesuaikan pencahayaan, kontras, dan selesai. Jika mau lebih praktis, aku tinggal pakai preset yang sudah ada.
Tentu saja, hitam putih tidak selalu cocok untuk semua foto. Kita perlu memperhatikan kontras dan kedalaman, memastikan tidak ada warna gelap yang bertabrakan dengan latar belakang, sehingga tetap ada pemisahan yang jelas antara subjek dan background.
Tahapan Kehidupan
Hitam putih, bagiku, adalah representasi dari kehidupan yang kadang terlihat sederhana: benar atau salah, ya atau tidak. Saat kita tumbuh dewasa, perspektif kita mulai penuh warna, tetapi ada masa ketika segalanya tampak hitam putih. Maka dari itu, aku merasa hitam putih adalah bagian dari perjalanan hidupku.
Di Instagram, aku kini mulai berevolusi, menambahkan beberapa foto berwarna, mencampur keduanya. Begitu juga dengan blog ini—meskipun tampilan luar foto-fotonya hitam putih, jika kamu mengarahkan kursor pada gambar, warnanya akan muncul. Ini adalah refleksi bahwa di balik penampilan sederhana, ada lebih banyak hal yang bisa dilihat jika kita melihat lebih dalam.
Kelemahan Foto Hitam Putih
Meski terlihat simpel, tidak semua foto cocok dengan gaya hitam putih. Kontras yang salah bisa membuat subjek "tenggelam" dalam latar belakang. Editing hitam putih yang bagus membutuhkan kejelian, khususnya dalam melihat kedalaman dan tekstur.
Warna gelap pada subjek bisa saja menyatu dengan latar yang sama-sama gelap, sehingga tidak ada separasi visual yang jelas. Mencapai keseimbangan ini adalah tantangan tersendiri dalam fotografi hitam putih.
Kesimpulan
Fotografi hitam putih mungkin tampak sederhana, tetapi membutuhkan pemahaman mendalam akan komposisi, tekstur, dan tentu saja pesan yang ingin disampaikan. Estetika, separasi warna, dan cerita di balik foto adalah kunci utama.
Menurut Mas Mamuk Iswantoro pada saat workshop journalistic photography menjelaskan, meskipun foto bisa bercerita, sebagai fotografer kita tetap harus menambahkan konteks atau narasi untuk memperjelas pesan. Ini penting agar audiens bisa memahami maksud di balik gambar tanpa ada kesalahan interpretasi.
Sejujurnya, aku masih dalam proses belajar untuk memberikan cerita yang jelas dalam setiap foto. Hingga saat ini, aku lebih fokus pada proses pengambilan gambar, tetapi mungkin suatu hari nanti, aku akan mampu menyampaikan pesan yang lebih dalam, baik dari semesta maupun dari diriku sendiri.